Langsa – PersatuanBangsa.com
Pengamat sosial sekaligus pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat Bungoeng Lam Jaroe (LSM BLJ), Zul Fadli, S.Sos., I.MM, menyampaikan pandangan kritisnya mengenai kondisi bangsa Indonesia yang dinilainya tengah mengalami krisis kepercayaan dan moral. Menurut analisisnya, faktor utama yang menghancurkan fondasi negara ini bukanlah datang dari luar, melainkan bermula dari perilaku segelintir elemen masyarakat sendiri yang memiliki sifat pengkhianat.
Dalam pernyataannya, Zul Fadli membagi akar permasalahan tersebut ke dalam tiga lapisan yang saling berkaitan. Lapisan pertama adalah sebagian rakyat yang dinilainya dengan mudah mengkhianati nilai-nilai kebersamaan hanya karena imbalan materi dari partai politik. “Awal mulanya dari rakyat itu sendiri. Ada di antara mereka yang rela menjadi pengkhianat karena dibayar oleh partai politik, sehingga dengan mudah suaranya diatur dan prinsipnya digadaikan,” ujarnya.
Lapisan kedua yang disorotnya adalah oknum panitia pemilu. Ia menilai, sebagian dari mereka terjebak dalam nafsu akan uang dan jabatan, sehingga melupakan tugas utama sebagai penjaga keadilan proses demokrasi. “Mereka yang seharusnya menjadi wasit yang adil, justru menjadi bagian dari masalah. Haus uang dan jabatan membuat mereka khianat terhadap amanah yang diberikan rakyat,” tambahnya.
Baru pada lapisan ketiga, Zul Fadli menyebutkan oknum pejabat eksekutif dan legislatif. Menurutnya, sebagian dari mereka yang menduduki jabatan justru rela mengkhianati kepercayaan rakyat dan negara demi mempertahankan atau memperluas kekuasaan. “Mereka haus jabatan, sehingga segala cara dilakukan termasuk mengkhianati amanah yang seharusnya dijalankan dengan jujur dan bertanggung jawab,” paparnya.
Lebih lanjut, pengamat sosial ini menyatakan bahwa kondisi inilah yang membuat partai politik dengan mudah menggerakkan dan mengobok-obok situasi masyarakat maupun pejabat di berbagai tingkatan. Ia menyebut sifat tersebut sebagai “jiwa londo ireng” atau jiwa pengkhianat yang masih menempel pada sebagian orang yang memiliki sifat serakah.
“Makanya partai politik tidak susah mengobok-obok rakyat Indonesia dan pejabatnya, karena dasarnya ada jiwa-jiwa pengkhianat yang masih bersarang dalam tubuh mereka. Namun perlu ditegaskan, ini dikhususkan bagi orang yang serakah dan mau melakukan hal tersebut, bukan untuk semua orang Indonesia,” jelas Zul Fadli dengan tegas.
Menutup pernyataannya, ia berharap pandangan ini dapat menjadi renungan bersama bagi seluruh elemen bangsa. Menurutnya, perbaikan negara hanya bisa dimulai jika setiap individu dari berbagai lapisan masyarakat berani membersihkan diri dari sifat serakah dan pengkhianat, serta kembali memegang teguh amanah yang diberikan.
Pandangan Zul Fadli ini menjadi salah satu suara kritis dari daerah yang selama ini banyak menyuarakan aspirasi masyarakat terkait keadilan sosial dan transparansi pengelolaan negara. Seperti yang sering disampaikannya melalui berbagai kesempatan, LSM BLJ yang ia pimpin berkomitmen menjadi wadah bagi suara rakyat kecil yang selama ini belum terfasilitasi dengan baik di mata pemangku kebijakan.
(Zainal).






