MALANG – PersatuanBangsa.com
Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Formasy Praja Nusantara (FPN) menyatakan dukungan penuh terhadap inisiasi Koridor Selatan 2045 dan Road to Malang Raya Megapolitan 2026–2045 yang digagas Bakorwil III Malang. Dukungan tersebut disampaikan dalam forum koordinasi yang berlangsung di Ruang Arjuno Bakorwil III Malang, Rabu (15/7).
Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, menjelaskan bahwa Koridor Selatan 2045 bukan sekadar gagasan perluasan kawasan perkotaan, melainkan sebuah strategi pembangunan kewilayahan untuk menciptakan simpul pertumbuhan ekonomi baru yang bertumpu pada potensi wilayah selatan Jawa Timur.
Menurutnya, inisiatif tersebut disusun sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Nawa Bhakti Satya Pemerintah Provinsi Jawa Timur, serta arah kebijakan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2027. Tujuan akhirnya adalah mewujudkan kawasan megapolitan yang unggul, inovatif, inklusif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Koridor Selatan 2045 merupakan upaya menghadirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis pada potensi lokal. Setiap daerah memiliki kekhasan dan karakter yang menjadi kekuatan pembangunan. Karena itu, pengembangan kawasan selatan Jawa Timur harus dibangun berdasarkan potensi unggulan masing-masing daerah agar mampu tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Asep.
Ia menuturkan, wilayah selatan Jawa Timur memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar, mulai dari komoditas tebu, kopi, kakao, hasil pertanian, perikanan, hingga potensi wisata bahari di sepanjang Jalur Lintas Selatan (JLS). Posisi geostrategis tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan klaster ekonomi hijau (Green Economy), ekonomi biru (Blue Economy), ekonomi kreatif, budaya, UMKM, serta sektor pariwisata.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah pengembangan sport ecotourism yang diyakini mampu menciptakan efek berganda terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui penguatan UMKM, homestay, kuliner lokal, transportasi, dan jasa pendukung lainnya.
“Pendekatan pembangunan yang kami dorong mengedepankan prinsip Green Economy dan Blue Economy sehingga pertumbuhan ekonomi dapat berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Untuk mempercepat implementasi gagasan tersebut, Bakorwil Malang membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai pemangku kepentingan. Salah satunya melalui sinergi dengan Ormas Formasy Praja Nusantara yang dinilai memiliki jaringan sosial yang kuat dalam pemberdayaan masyarakat.
Ketua Umum Formasy Praja Nusantara, Dodik Purwoko, SP, menyatakan komitmennya untuk mengawal sekaligus mendukung percepatan pembangunan kawasan selatan Jawa Timur yang membentang dari Pacitan hingga Banyuwangi.
“Kami siap menjadi bagian dari gerakan besar pembangunan Jawa Timur bagian selatan. Formasy Praja Nusantara akan berperan aktif dalam sosialisasi, pemberdayaan masyarakat, serta mendukung implementasi Green Economy dan Blue Economy agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat,” tegas Dodik.
Dalam kesempatan tersebut, Dodik didampingi Ketua DMD FPN Kota Batu Yoyok Yuliono, Pengasuh Pondok Pesantren Entrepreneur Roudlotul Madinah KH. Zainullah Anwar, serta Prof. Nurhidayati, Guru Besar Kesuburan Tanah Universitas Islam Malang (UNISMA), yang juga merupakan Badan Pekerja Dewan Majelis Nasional Formasy Praja Nusantara.
Selain menggandeng unsur masyarakat, Bakorwil Malang juga memperkuat sinergi dengan Perum Perhutani. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Departemen Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Divisi Regional Jawa Timur Imam Suyuti, didampingi Administratur KPH Pasuruan Ivan Cahyono, Administratur KPH Malang Kelik Jatmiko, serta Kepala PHW Malang.
Kolaborasi tersebut dinilai strategis mengingat sebagian besar kawasan pengembangan berada di sekitar kawasan hutan maupun berbatasan langsung dengan wilayah kelola Perum Perhutani.
“Perum Perhutani memiliki peran strategis dalam mengoptimalkan pembangunan kawasan selatan Jawa Timur. Sinergi ini penting untuk membangun optimisme, mengenalkan potensi kawasan, serta memperkuat narasi positif pembangunan sebagai energi bersama dalam mempercepat kemajuan wilayah,” ujar Asep.
Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta forum sepakat membentuk Konsorsium Akselerasi Kawasan Selatan-Selatan Jawa Timur (Konsorsium AKSES Jatim) sebagai wadah kolaborasi lintas sektor guna mempercepat implementasi pembangunan kawasan.
Dewan Pembina Konsorsium AKSES Jatim direncanakan dipimpin oleh Wakil Gubernur Jawa Timur dengan melibatkan Bakorwil I Madiun, Bakorwil III Malang, Bakorwil V Jember, Bappeda Provinsi Jawa Timur, BRIDA Provinsi Jawa Timur, serta Novrizal Peterson.
Untuk mempercepat pelaksanaan program, konsorsium akan bekerja melalui lima kelompok kerja (Pokja), yaitu Pokja Knowledge dan Inovasi, Pokja Infrastruktur Fisik dan Tata Kelola Kawasan, Pokja Pusat Data dan Informasi (Pusdatin), Pokja Institusional dan Sosial; serta Pokja Investasi dan Business Development.
Masing-masing Pokja akan segera menyusun tugas pokok, rencana aksi, serta agenda kerja sebagai langkah awal percepatan implementasi pembangunan Koridor Selatan 2045.
Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, komunitas, dan organisasi masyarakat, Koridor Selatan 2045 diharapkan menjadi gerakan bersama untuk mewujudkan kawasan selatan Jawa Timur sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan.
(Red)






