Ketika Tangis Orang Kecil Lebih Dahulu Didengar Tuhan

Bogor – PersatuanBangsa.com
Dalam tradisi iman, ada satu keyakinan yang meneguhkan: Tuhan selalu berpihak pada mereka yang remuk hatinya. Tangis orang kecil, yang sering tak terdengar oleh dunia, justru lebih dahulu sampai ke hadirat-Nya. Tangis itu tidak selalu berupa teriakan, melainkan hadir dalam gemetar tubuh, dalam tatapan yang tertunduk, dan dalam rasa malu yang dipendam.

Tangis itulah yang terasa begitu nyata ketika saya menyaksikan video seorang kakek penjual es gabus yang viral pada 27 Januari 2026. Ia tidak melawan. Ia tidak membela diri. Ia hanya berdiri, gemetar dan pasrah, di hadapan kewenangan yang terlalu besar bagi tubuh renta dan hidup sederhananya. Di hadapan pemandangan itu, iman saya terusik: di manakah wajah kasih ketika kekuasaan hadir?

Peristiwa itu terjadi di akhir Januari 2026, saat sang kakek menjalani rutinitasnya—berjualan demi menyambung hidup. Es gabus, jajanan sederhana yang bagi banyak orang adalah kenangan masa kecil, tiba-tiba berubah menjadi tuduhan. Ia dicap berbahaya tanpa penjelasan ilmiah yang disampaikan dengan bahasa yang membebaskan, tanpa dialog yang memanusiakan, dan tanpa mempertimbangkan bahwa yang berdiri di hadapan aparat adalah seorang lansia yang menggantungkan hidupnya pada dagangan itu.

Dalam iman, manusia tidak pernah dinilai dari apa yang ia miliki, tetapi dari martabatnya sebagai ciptaan Tuhan. Karena itu, yang melukai nurani publik bukan hanya soal benar atau salah, melainkan cara—cara ketika kewenangan dijalankan tanpa kelembutan hati. Iman mengajarkan bahwa hukum tanpa kasih akan menjadi beban, bukan penuntun.

Saya menghargai permintaan maaf yang telah disampaikan oleh Dandim Jakarta Pusat. Dalam iman, pengakuan kesalahan adalah awal pertobatan. Namun iman juga menegaskan bahwa pertobatan sejati selalu ditandai oleh perubahan sikap dan tindakan. Tanpa perubahan, kata maaf hanya menjadi gema kosong yang tidak menyentuh luka.

Rakyat kecil memahami penderitaan bukan sebagai teori, tetapi sebagai pengalaman harian. Mereka tahu rasanya takut kehilangan penghasilan. Takut pulang dengan tangan kosong. Takut dicap bersalah di depan publik. Dalam kitab suci, orang-orang seperti inilah yang disebut “yang hina dan tersingkir”—dan justru kepada merekalah Tuhan menyatakan keberpihakan-Nya.

Kasus es gabus ini mengingatkan kita pada satu kebenaran iman: kekuasaan yang tidak disertai belas kasih akan kehilangan rohnya. Seragam dan pangkat bukan tanda keagungan, melainkan amanah. Amanah untuk melindungi, bukan melukai. Amanah untuk mengangkat yang lemah, bukan mempermalukannya.

Wibawa sejati, dalam terang iman, lahir dari kerendahan hati. Dari keberanian untuk menunduk, mendengar, dan memahami. Negara—seperti halnya gereja dan semua institusi—dipanggil untuk menjadi rumah yang aman, bukan ruang yang membuat orang kecil gemetar.

Es gabus hanyalah simbol.
Namun air mata di baliknya adalah doa yang tak terucap—doa rakyat kecil yang berharap masih ada kasih dalam wajah negara. Doa agar keadilan tidak hadir sebagai ancaman, melainkan sebagai pelukan.

Saya percaya, Tuhan tidak pernah jauh dari mereka yang tertindas. Maka ukuran kebesaran sebuah bangsa bukan terletak pada kerasnya penegakan kuasa, melainkan pada kemampuannya meneladani kasih—kasih yang melindungi, memulihkan, dan memanusiakan.

Maaf telah terucap.
Kini iman menuntut lebih: pertobatan yang nyata, agar tangis orang kecil tidak terus menjadi doa yang terulang.

Profil Singkat Penulis

Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas) adalah rohaniawan dan Jurnalis Senior Pewarna Indonesia. Aktif menulis refleksi iman, kemanusiaan, dan keadilan sosial, dengan perhatian khusus pada suara rakyat kecil dan kelompok rentan.
(Red)

Pos terkait