Trenggalek, PersatusnBangsa.com
Bertempat di Gedung Bioskop NSC Kabupaten Trenggalek, Anggota DPR RI dari Dapil VII Jatim yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek, Novita Hardini, SE., ME., menggelar rangkaian kegiatan TGX Women Summit dalam rangka memperingati Hari Kartini. Sebagai pejuang perempuan di era sekarang, perempuan yang juga menjadi anggota Komisi VII DPR RI itu mengajak kepada seluruh perempuan untuk menyalakan api perjuangan positif. Sabtu (18/4/26)
Hal ini dilakukan Novita Hardini, karena mengingat tantangan hari ini masih cukup berat bagi masyarakat. Tentunya kebangkitan perempuan-perempuan dalam setiap rumah tangga dibutuhkan untuk setiap keluarga itu bisa menghadapi tantangan kehidupan dengan segala problematikanya.
Dalam kegiatan yang dikemas dalam bentuk Workshoop itu, Novita melakukan serangkaian kegiatan, salah satunya peluncuran buku “Bising dan Hening” yang merupakan kisah perjalanan beberapa perempuan yang telah berhasil melewati masalahnya.
Selain peluncuran buku, ada juga pemutaran beberapa film dokumenter dan animasi karya anak muda Trenggalek berprestasi. Novita banyak menemukan anak muda Trenggalek berprestasi di kancah nasional tapi bertemunya di luar Trenggalek. Sebagai ibunya masyarakat Trenggalek, tentu Novita Hardini merasa perlu merangkul talent-talent muda berbakat tersebut.
Dalam kesempatan itu, Master of Economic UINSATU itu mengatakan,kita mengadakan sesi Workshoop dalam rangka memperingati Hari Kartini menjelang tanggal 21 April. Dimana hingga pada tahun 2026 kita masih menghadapi banyak sekali barier-barier yang tidak menguntungkan bagi perempuan dari berbagai lapisan masyarakat yang ada.
Mulai dari pusat hingga di seluruh daerah, maka dalam rangka kegiatan hari ini saya mengajak kepada seluruh perempuan untuk menyalakan api perjuangan yang positif, untuk bisa menghadapi kehidupan masing-masing.
Sementara itu terkait peluncuran buku, Founders UPRINTIS Indonesia itu menambahkan, “karena saya anak muda dan saya adalah perempuan yang kebetulan mendapatkan amanah di Komisi VII, sehingga saya harus menyalakan stimulasi-stimulasi yang kreatif bagi anak-anak muda kita,” imbuhnya.
Bagaimana kita menjadikan setiap perjuangan hidup itu menjadi karya. Maka buku ini menjadi simulasi bagi seluruh perempuan untuk bisa berkarya melalui tulisannya. Karena ini juga bisa menjadi memoar yang yang berbicara tentang apa yang selama ini mungkin tidak bisa dibicarakan.
Bukunya tentang historikal story seluruh perempuan-perempuan yang telah melewati berbagai ujian. Dimana cara mereka melewati dan apa yang menjadi pemikiran-pemikiran mereka yang mereka tuangkan dalam buku ini.
“Sementara itu pesan yang ingin saya sampaikan pada buku ini bahwa terkadang dalam hidup yang mampu menasehati diri kita adalah diri kita sendiri. Maka ketika seseorang menuliskan ke dalam sebuah tulisan. Kemudian menemu kenali tulisannya sendiri 2 tahun atau 5 tahun mendatang, saya berharap siapapun yang menulis dalam buku ini, mereka akan menjadikan buku ini sebagai nasehat yang paling baik di masa depan mereka,” tandasnya.
Kemudian terkait film di Kabupaten Trenggalek dengan ekonomi kreatifnya juga hari ini sudah mulai menunjukkan geliat yang positif. Karena banyak sekali anak-anak muda yang berbakat yang saya jumpai. Bahkan bukan di Trenggalek, mereka dari Trenggalek tapi malah saya jumpai dari Jogja dan kota kota lainnya. Dan karya-karyanya itu sudah sangat-sangat bagus di kancah nasional.
Sehingga ada beberapa project, saya sebagai ibu punya masyarakat Trenggalek ingin mewadahi seluruh masyarakat yang punya talent-talent ini untuk membuat sebuah karya. Baik berupa buku dan buku ini saya juga menggandeng seluruh perempuan-perempuan penulis yang ada di Kabupaten Trenggalek.
“Nanti film juga, saya menggandeng talent-talent dari Kabupaten Trenggalek. Dan juga nanti Insya Allah nanyi saya akan laksanakan di tahun ini ada Workshoop atau Boot Camp dari Emtek untuk bisa melatih seluruh konten-konten kreator yang ada di Kabupaten Trenggalek,” tuturnya
Sementara itu, Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, yang hadir juga dalam rangkaian kegiatan TGX Woment Summit itu menambahkan,Saya sangat kagum sekali, karena saya sendiri juga pembelajar. Saya sekolah studi gender di S2, itu juga inspirasi dari Bunda Novita.
Dan alhamdulillah saya punya patner yang kemudian menyadarkan saya, bahwa ternyata begini to gerakan yang setara itu. Saya juga berusaha untuk menekan ego patriarki dalam diri saya sendiri. Maka kehadiran saya sendiri jiga sebagai bukti bentuk perayaan bahwa kita semua sama, kita semua bisa melaksanakan apapun.
Seperti semboyannya Kartini, Kartini cuma punya 2 kata saya mau. Maka sebenarnya perayaan Kartini bukan hanya perayaannya perempuan, karena banyak juga laki-laki yang tidak punya kemauan untuk memperbaiki diri maupun punya kemauan untuk meraih sesuatu yang lebih baik kedepannya.
Dalam konteks tulisannya RA. Kartini adalah, kamu tahu tidak, semboyan apa saya? Semboyan saya adalah, saya mau. Jadi beliau mau belaja, beliau mau didengar,beliau mau mendobrak. Bahkan beliau bisa mempengaruhi studi Islam. Karena pada waktu itu, saya beragama Islam, tapi saya membaca Al Quran tidak mengerti maknanya. Itu yang kemudian yang disampaikan oleh gurunya Kyai Soleh Darat dan di situlah muncul terjemahan Al Quran pertama dengan aksara huruf Arab Pegon. Karya Mbah Soleh Darat yang berasal dari kegelisahan RA. kartini.
“Sebagai bentuk perayaan orang-orang di Trenggalek, baik laki-laki atau perempuannya, ayo kita menumbuhkan kemauan dan keberanian untuk lebih baik,”tutupnya
(Red)







