Antara Jabatan Amanah dan Kebenaran: Mengapa Saya Menjauh dari Kekuasaan

Aceh, PersatuanBangsa.com
Sering kali saya bertanya dalam hati, mengapa di zaman yang serba canggih ini justru makin banyak terlihat orang‑orang yang hatinya gelap, dengan leluasa menindas dan menzalimi mereka yang berusaha teguh memegang kebenaran serta nilai‑nilai luhur ajaran Islam. Padahal bagi siapa saja yang mau berpikir jernih, agama Islam adalah aturan hidup yang paling sempurna, paling adil dan paling terbaik dibandingkan ajaran mana pun di muka bumi ini. Bahkan Allah SWT sendiri telah menegaskan dalam Al‑Qur’an, bahwa pada hari ini telah disempurnakan‑Nya agama ini bagi umat manusia. Namun ironisnya, kesempurnaan itu justru sering kali disalahpahami, diselewengkan, bahkan dijadikan kedok oleh sebagian orang yang mengaku beragama Islam — tak terkecuali para pejabat tinggi di negeri ini — yang pekerjaan sehari‑harinya justru menciptakan gesekan, memecah belah dan membangun manajemen konflik di tengah masyarakat yang damai.

Banyak orang yang mengenal saya bertanya‑tanya, bahkan ada yang berprasangka buruk: kenapa engkau selalu menolak jabatan, padahal kesempatan itu berkali‑kali datang menghampiri? Tidak sedikit yang menuduh saya munafik, pura‑pura tidak mau padahal sebenarnya sangat menginginkannya, atau beranggapan saya hanya sedang menunggu harga yang lebih tinggi. Anggapan itu wajar saja muncul dari mulut mereka yang baru mengenal saya dari luar saja, yang belum pernah menyelami bagaimana isi hati, kedalaman iman dan prinsip hidup yang saya pegang teguh sejak muda. Sebenarnya, sejak puluhan tahun lalu jabatan‑jabatan strategis sudah berkali‑kali ditawarkan langsung oleh para pembesar dan orang‑orang berkuasa, namun semuanya saya tolak sejauh‑jauhnya. Bukan karena saya tidak mampu, bukan pula karena saya tidak butuh penghasilan, melainkan karena satu alasan besar: bagi saya, jabatan kekuasaan itu adalah jalan yang sangat licin, yang setiap langkahnya penuh bahaya, dan sangat mudah menyeret siapa saja yang memegangnya jatuh ke lembah kemudaratan, baik di dunia terlebih lagi di akhirat kelak.

Percayalah, barang siapa yang sudah duduk memegang tampuk kekuasaan, maka sesungguhnya dia telah menjadi salah satu calon penghuni neraka, kecuali orang‑orang yang benar‑benar dijaga dan dipilih oleh Allah. Mengapa saya berani berkata demikian? Karena di sistem yang berjalan sekarang ini, nyaris mustahil seorang pejabat bisa memegang amanah sepenuhnya. Kita semua tahu, untuk bisa naik menduduki jabatan politik, baik di jalur eksekutif maupun legislatif, seseorang harus mengeluarkan biaya yang luar biasa besar, ratusan juta bahkan miliaran rupiah dihabiskan di jalan menuju kursi kekuasaan. Begitu mereka duduk, maka satu hal yang pasti ada di kepala mereka: modal yang sudah dikeluarkan itu wajib kembali, bahkan harus berlipat ganda. Di situlah letak awal segala kejahatan dimulai.

Mekanismenya sudah berjalan rapi seperti sistem mesin yang sudah disetting sedemikian rupa. Eksekutif memegang kendali penyusunan dan pengusulan anggaran, legislatif memegang kunci pengesahannya. Keduanya bersekongkol memonopoli uang negara, merancang sedemikian rupa agar dari setiap rupiah anggaran yang ada, selalu tersisa bagian lebih yang bisa diambil bersama. Agar rencana itu berjalan mulus tanpa hambatan, maka dibutuhkanlah peran kunci orang kepercayaan: Sekretaris Daerah yang secara struktural diangkat menjadi Ketua Tim Anggaran di tingkat daerah, beserta seluruh Kepala Dinas yang berkedudukan sebagai Pengguna Anggaran. Maka jadilah aturan mainnya: setiap program, setiap kegiatan dan setiap usulan anggaran yang diajukan ke bawah, mutlak harus mengikuti kemauan dan perintah eksekutif serta legislatif sebagai penguasa sekaligus pemberi sah anggaran.

Tidak ada satu pun Sekretaris Daerah atau Kepala Dinas yang berani membantah atau menolak perintah atasan, karena mayoritas dari mereka adalah orang‑orang yang dipilih dan diangkat justru karena kesediaannya membenarkan apa saja yang salah, asal menyenangkan penguasa yang zalim. Di dalam tubuh birokrasi dan pejabat politik hari ini, yang berbicara bukan lagi kebenaran dan kepentingan rakyat, melainkan kepentingan bisnis dan keuntungan pribadi atau kelompok. Siapa saja yang berani bersuara lurus menegakkan keadilan, maka dia akan segera disingkirkan, dimusuhi atau dijadikan musuh bersama. Belum lagi bahaya batin yang paling berbahaya: ketika seseorang sudah menjadi pemimpin yang berkuasa, tanpa sadar dia bisa menyeret anak buah dan orang‑orang di sekitarnya masuk ke dalam kesesatan, sampai‑sampai ada yang menghormati, menakuti atau menyembah dirinya melebihi rasa takut dan penghambaan kepada Allah SWT. Itu dosa yang sangat besar, yang sering kali tidak disadari oleh si pemegang kekuasaan.

Ada satu hal lagi yang menurut saya sangat aneh dan menyedihkan dari tabiat manusia. Semakin bertambah usia, semakin rambut memutih dan semakin dekat langkah kaki menuju liang lahad, seharusnya yang dikejar‑kejar hanyalah pahala dan amal saleh sebagai bekal pulang ke kampung akhirat. Namun kenyataannya berbicara lain: justru di usia senjalah kebanyakan orang makin rakus, makin giat mengumpulkan dosa, bahkan dosa itu pun mereka beli dengan harga mahal, salah satunya dengan cara membeli jabatan. Sungguh kerugian yang tiada tara. Banyak orang beranggapan, dosa menyakiti atau menzalimi sesama manusia nanti akan mudah diampuni langsung oleh Allah. Itu adalah kesalahan fatal yang diajarkan oleh setan. Berdasarkan ilmu agama yang pernah saya terima langsung dari para guru ulama sejak saya masih muda, Allah SWT tidak akan pernah mengampuni dosa hamba‑Nya yang berkaitan dengan hak orang lain, sebelum si pendosa itu meminta maaf, mengakui kesalahannya dan mengembalikan hak yang dirampasnya kepada orang yang dizalimi. Selama hal itu belum dilakukan, maka dosa itu akan terus menggantung, menjadi utang yang harus dipertanggungjawabkan sampai kiamat kelak.

Belum lagi dihitung dari sisi risiko duniawinya. Kalau suatu saat kejahatan terbongkar, maka yang menanggung semuanya sendirian adalah bawahan dan pelaksana di lapangan. Kita bisa dipenjara bertahun‑tahun, jabatan dicabut, pekerjaan dihapuskan, seluruh harta hasil jerih payah maupun hasil curian disita kembali oleh negara, tanpa peduli sedikit pun bagaimana nasib anak istri yang ditinggalkan. Yang paling menyakitkan hati, pada saat kita sudah jatuh terpuruk seperti itu, atasan‑atasan yang dulu menyuruh, yang memerintah dan yang menikmati hasil kejahatan terbesar, akan lari seribu langkah meninggalkan tanggung jawab, seolah‑olah tidak pernah kenal dengan kita. Akhirnya lengkap sudah penderitaannya: harta habis tak bersisa, hidup menjadi miskin hina, dan mati kelak dalam keadaan membawa dosa yang menumpuk ruah.

Bagi orang‑orang yang selama ini telah menzalimi saya, atau yang berusaha menjatuhkan nama baik saya, biarlah semua itu menjadi catatan tersendiri di sisi Allah. Perlu mereka ketahui, jauh sebelum nama saya dikenal seperti sekarang, saya sudah secara tidak langsung terlibat dan ikut membantu perjuangan bangsa Aceh. Bukan karena saya membenci suku atau bangsa lain, sama sekali bukan. Melainkan karena sejak muda hati ini sudah diajarkan untuk mencintai kebenaran, dan kebenaran yang mutlak itu menurut keyakinan saya hanya ada di dalam hukum dan aturan yang diturunkan langsung oleh Allah SWT.

Saya masih ingat jelas, sekitar tahun 2004 silam saya pernah menyurati langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menyampaikan nasib memilukan ribuan tenaga honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun namun nasibnya tak kunjung jelas, memohon agar mereka diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara. Surat itu baru mendapat jawaban resmi dari Direktorat Jenderal Kementerian terkait pada tahun 2005, yang isinya kurang lebih berbunyi: “Saudara yang kami hormati, di pusat kami hanya menerima dan memproses daftar nama‑nama yang dinyatakan lulus dan dikirimkan dari tingkat provinsi tempat saudara bertugas. Yang berwenang menentukan lulus atau tidak lulus sepenuhnya ada di tangan pemerintah daerah. Namun demikian, atas surat saudara ini akan kami sampaikan dan usahakan menjadi masukan langsung kepada Bapak Presiden.” Sejak saat itulah saya sadar sepenuhnya, bahwa kebanyakan kejahatan, kelicikan dan ketidakadilan itu justru bersumber dari ulah pejabat‑pejabat yang duduk di daerah, yang memegang wewenang tapi menyalahgunakannya untuk kepentingan sendiri.

Dari kesadaran itulah kemudian saya mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat Bungoeng Lam Jaroe, dengan satu tujuan tunggal: menjadi pembela dan suara bagi orang‑orang lemah, tertindas dan miskin yang tidak punya kuasa apa‑apa. Sejak lembaga ini berdiri sampai detik ini, tidak pernah sekalipun saya atau pengurus lain memungut sepeser pun uang jasa, bayaran atau imbalan apa pun dari masyarakat yang kami bantu. Masih tercatat jelas dalam sejarah perjuangan kami, salah satu yang paling besar adalah ketika kami berani menyurati langsung Badan Intelijen Negara dan Presiden SBY, memohon perlindungan dan suaka politik bagi Din Minimi dan kawan‑kawannya, agar tidak diburu untuk ditembak mati hidup atau mati, saat itu beliau dianggap kembali mengganggu keamanan tak lama setelah kesepakatan damai MOU Helsinki ditandatangani. Alhamdulillah, usaha kami tidak sia‑sia, suara kami didengar dan nyawa beliau terselamatkan. Itu baru satu dari sekian puluh bahkan ratusan kasus rakyat kecil yang kami dampingi sampai selesai, semuanya kami kerjakan dengan ikhlas tanpa bayaran.

Dan yang paling baru saja kami lakukan, kami kembali mengangkat pena menyurati kantor pusat Perserikatan Bangsa‑Bangsa di New York. Kami sampaikan dengan terus terang bagaimana nasib sebenarnya rakyat Aceh, bagaimana kekayaan alam yang melimpah ruah termasuk hasil tambang di perairan Pulau Andaman dikuasai sepenuhnya oleh pihak luar, sementara pemilik tanah dan laut hanya diberi jatah sangat kecil, dan bagaimana janji‑janji kemakmuran di bawah naungan syariat Islam yang dulu pernah dimohonkan dan dijanjikan pendiri bangsa, sampai hari ini belum juga menjadi kenyataan. Kami ingin suara hati nurani rakyat Aceh didengar oleh seluruh bangsa di dunia.

Bagi saya, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya demi mengejar kursi, pangkat dan harta yang fana. Jabatan itu amanah yang sangat berat, yang kalau salah sedikit saja membawa petaka abadi. Saya memilih jalan ini: tidak berkuasa, tidak kaya raya, tapi hati tenang, berusaha sekuat tenaga menegakkan kebenaran, membela yang lemah, dan berharap kelak saat menghadap Sang Pencipta, tangan ini kosong dari dosa menzalimi sesama makhluk. Itu saja tujuan hidup saya, sesederhana itu.
(Zal/Zul)

Pos terkait